Siapa yang tidak kenal Wayang Kulit? Pada jaman dahulu Wayang Kulit merupakan media dakwah yang digunakan oleh Kanjeng Sunan Kalijogo dalam menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa. Sunan Kalijogo merupakan salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan Agama Islam yang dikenal dengan nama Wali Songo. Jika anda ingin mengetahu sejarah dari Wali Songo dapat anda Baca di postingan saya “Sejarah Wali Songo”. Pada jaman sebelum Sunan Kalijaga, wayang bentuknya adalah sebagai berikut;
Adegan demi adegan wayang tersebut digambar pada sebuah kertas dengan gambar ujud manusia. Dan ini diharamkan oleh Sunan Giri.
Karena diharamkan oleh Sunan Giri, maka Sunan Kalijaga membuat kreasi baru, bentuk wayang dirubah sedemikian rupa, dan digambar atau di ukir pada sebuah kulit kambing, satu lukisan adalah satu wayang, sedang di jaman sebelumnya satu lukisan adalah satu adegan. Gambar yang ditampilkan oleh Sunan Kalijaga tidak bisa disebut gambar manusia, mirip karikatur bercita rasa tinggi. Diseluruh dunia hanya di Jawa inilah ada bentuk wayang seperti yang kita lihat sekarang. Itulah ciptaan Sunan Kalijaga.
Jika kita cermati maka banyak sekali nilai yang tekandung di dalam wayang tersebut, antara lain nilai seni yang tinggi, nilai pendidikan yang tersirat dalam wayang merupakan nilai yang tidak ada duanya. Dari kisah yang dipaparkan oleh Ki Dalang kita dapat mengambil sebuah nilai pendidikannya, nilai pendidikan untuk bekal hidup di dunia ini. Namun amat disayangkan wayang sekarang sudah tidak banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, peran wayang sekarang telah digantikan oleh sinetron atau film yang ada di televisi. Bahkan ada kisah ditelevisi yang merupakan kisah sejarah telah diplencengken dari kisah aslinya, kita ambil contoh sebuah kisah sejarah dikamuflase dengan kehidupan yang serba modern demi meraih ratting yang tinggi dari pemirsa TV. Dan masih banyak yang lainnya.
Timbul pertanyaan dalam benak saya, masihkan pembohongan dan pembodohan public itu akan terus berlangsung? Sehingga menurut saya hanya wayanglah yang masih memiliki kisah yang original. Jika Anda tidak percaya tontonlah wayang dan dapatkan nilai yang terkandung didalamnya. Kita sebagai generasi muda harus terus melestarikan kebudayaan milik kita sendiri (nguri-uri kabudayaan)
Baiklah, pada kesempatan ini saya ambilkan salah satu contoh cerita wayang yang berjudul “Begawan Ciptoning” yang saya ambil dari Buku peringatan HUT ke-100 Rasa Darma Semarang tahun 1975.
Salam Sukses
Mas Guru
Adegan demi adegan wayang tersebut digambar pada sebuah kertas dengan gambar ujud manusia. Dan ini diharamkan oleh Sunan Giri.
Karena diharamkan oleh Sunan Giri, maka Sunan Kalijaga membuat kreasi baru, bentuk wayang dirubah sedemikian rupa, dan digambar atau di ukir pada sebuah kulit kambing, satu lukisan adalah satu wayang, sedang di jaman sebelumnya satu lukisan adalah satu adegan. Gambar yang ditampilkan oleh Sunan Kalijaga tidak bisa disebut gambar manusia, mirip karikatur bercita rasa tinggi. Diseluruh dunia hanya di Jawa inilah ada bentuk wayang seperti yang kita lihat sekarang. Itulah ciptaan Sunan Kalijaga.
Jika kita cermati maka banyak sekali nilai yang tekandung di dalam wayang tersebut, antara lain nilai seni yang tinggi, nilai pendidikan yang tersirat dalam wayang merupakan nilai yang tidak ada duanya. Dari kisah yang dipaparkan oleh Ki Dalang kita dapat mengambil sebuah nilai pendidikannya, nilai pendidikan untuk bekal hidup di dunia ini. Namun amat disayangkan wayang sekarang sudah tidak banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, peran wayang sekarang telah digantikan oleh sinetron atau film yang ada di televisi. Bahkan ada kisah ditelevisi yang merupakan kisah sejarah telah diplencengken dari kisah aslinya, kita ambil contoh sebuah kisah sejarah dikamuflase dengan kehidupan yang serba modern demi meraih ratting yang tinggi dari pemirsa TV. Dan masih banyak yang lainnya.
Timbul pertanyaan dalam benak saya, masihkan pembohongan dan pembodohan public itu akan terus berlangsung? Sehingga menurut saya hanya wayanglah yang masih memiliki kisah yang original. Jika Anda tidak percaya tontonlah wayang dan dapatkan nilai yang terkandung didalamnya. Kita sebagai generasi muda harus terus melestarikan kebudayaan milik kita sendiri (nguri-uri kabudayaan)
Baiklah, pada kesempatan ini saya ambilkan salah satu contoh cerita wayang yang berjudul “Begawan Ciptoning” yang saya ambil dari Buku peringatan HUT ke-100 Rasa Darma Semarang tahun 1975.
Salam Sukses
Mas Guru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar