Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2010

Begawan Ciptoning

Cerita pewayangan yang merupakan gambaran atau sidiran pada orang-orang yang sedang menjalani kehidupan di alam kesucian, antaranya adalah ceriata Begawan Ciptoning. Yang memegang peranan utama dalam serita ini adalah Raden Harjuno atau Raden Janoko, yang menggunakan nama Begawan Ciptoning. Demikianlah antara lain istilah yang pernah penulis dengar dari beberapa Ki Dalang dalam cerita pewayangan itu. Cerita tersebu diawali dengan adegan di pertapan Indrokilo, dimana Begawan Ciptoning itu diikuti oleh Punokawan yang terkenal dengan sebutan : Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Jumat, 05 Februari 2010

Nilai Pendidikan Yang Terkandung Dalam Wayang Kulit

Siapa yang tidak kenal Wayang Kulit? Pada jaman dahulu Wayang Kulit merupakan media dakwah yang digunakan oleh Kanjeng Sunan Kalijogo dalam menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa. Sunan Kalijogo merupakan salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan Agama Islam yang dikenal dengan nama Wali Songo. Jika anda ingin mengetahu sejarah dari Wali Songo dapat anda Baca di postingan saya “Sejarah Wali Songo”. Pada jaman sebelum Sunan Kalijaga, wayang bentuknya adalah sebagai berikut;

Rabu, 06 Januari 2010

Ketika Engkau Bersembahyang

Oleh : Emha Ainun Najib


Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar
Bacaan Al-Fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya
Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis

Kita Masuki Pasar Riba


Oleh : Emha Ainun Najib


Kita pasar r iba
Medan perang keserakahan
Seperti ikan dalam air tenggelam
Tak bisa ambil jarak
Tak tahu langit
Ke kiri dosa ke kanan dusta
Bernapas air

I k r a r


Oleh : Emha Ainun Najib


Di dalam sinar-Mu
Segala soal dan wajah dunia
Tak menyebabkan apa-apa
Aku sendirilah yang menggerakkan laku
Atas nama-Mu
Kuambil siakp, total dan tuntas
maka getaranku
Adalah getaran-Mu

Ku Dekap Ku Sayang-sayang



Oleh : Emha Ainun Naijb


Kepadamu kekasih kupersembahkan segala api keperihan
di dadaku ini demi cintaku kepada semua manusia
Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan
diri dalam hidup demi mempertahankan kemesraan rahasia,
yang teramat menyakitkan ini, denganmu
Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah
persemayaman dalam jiwa remuk redam hamba-hambamu
Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, dan ketika
mereka tancapkan pisau ke dadaku, mengucur darah dari
mereka sendiri, sehingga bersegera aku mengusapnya,
kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku
Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang,
kupeluk,

Ditanyakan Kepadanya

Oleh : Emha Ainun Najib


Ditanyakan kepadanya siapakah pencuri
Jawabnya: ialah pisang yang berbuah mangga
Tak demikian Allah menata
Maka berdusta ia
Ditanyakan kepadanya siapakah penumpuk harta
Jawabnya: ialah matahari yang tak bercahaya
Tak demikian sunnatullah berkata
Maka cerdusta ia

Memecah Mengutuhkan

Oleh : Emha Ainun Najib


Kerja dan fungsi memecah manusia
Sujud sembahyang mengutuhkannya
Ego dan nafsu menumpas kehidupan
Oleh cinta nyawa dikembalikan
Lengan tanganmu tanggal sebelah
Karena siang hari politik yang gerah
Deru mesin ekonomi membekukan tubuhmu
Cambuk impian membuat jiwamu jadi hantu
Suami dan istri tak saling mengabdi
Tak mengalahkan atau memenangi
Keduanya adalah sahabat bergandengan tangan
Bersama-sama mengarungi jejeak Tuhan
Kalau berpcu mempersaingkan hari esok
Jangan lupakan cinta di kandungan cakrawala
Kalau cemas karena diiming-imingi tetangga
Berkacalah pada sunyi di gua garba rahasia

1987


Pengirim Subhan Toba
Jumat 6 Januari 2000

Dari Bentangan Langit

Oleh : Emha Ainun Najib


Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu, datang kepadamu
Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang
Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan !
Mengekal tanah berbongkahan !
datang kepadamu, Ia, kemarau itu
dari Tuhan, yang senantia diam
dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa
yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.


Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,
1997

TAHAJJUD CINTAKU

Oleh : Emha Ainun Najib


Maha anggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Mahaagung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan
Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya
Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya takditerima
Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita
Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya tak dipelihara
Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka
Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya
Ke mana pun memandang yang tampak ialah kebenaran
Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang

Begitu Engkau BErsujud

Oleh : Emha Ainun Najib


Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang
yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
Setiap kali engkau bersujud, setiap kali
pula telah engkau dirikan masjid
Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid
telah kau bengun selama hidupmu?

Antara Tiga Kota

Oleh : Emha Ainun Najib


di yogya aku lelap tertidur angin di sisiku mendengkur seluruh kota pun bagai dalam kubur pohon-pohon semua mengantuk di sini kamu harus belajar berlatih tetap hidup sambil mengantuk

Do'a Sehelai Daun Kering


------------------------------------------------------------------------ Janganku suaraku, ya 'Aziz Sedangkan firmanMupun diabaikan Jangankan ucapanku, ya Qawiy Sedangkan ayatMupun disepelekan Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah Sedangkan kasih sayangMupun dibuang Jangankan sapaanku, ya Matin

Sepenggal Puisi Cak Nun

Oleh : Emha Ainun Najib


sayang sayang kita tak tau kemana pergi
tak sanggup kita dengarkan suara yang sejati
langkah kita mengabdi pada kepentingan nafsu sendiri
yang bisa kita pandang hanya kepentingan sendiri
loyang disangka emas emasnya di buang buang
kita makin buta yang mana utara yang mana selatan
yang kecil dibesarkan yang besar di remehkan
yang penting disepelekan yang sepele diutamakan
Allah Allah betapa busuk hidup kami
dan masih akan membusuk lagi
betapa gelap hari di depan kami
mohon ayomilah kami yang kecil ini