Cerita pewayangan yang merupakan gambaran atau sidiran pada orang-orang yang sedang menjalani kehidupan di alam kesucian, antaranya adalah ceriata Begawan Ciptoning. Yang memegang peranan utama dalam serita ini adalah Raden Harjuno atau Raden Janoko, yang menggunakan nama Begawan Ciptoning. Demikianlah antara lain istilah yang pernah penulis dengar dari beberapa Ki Dalang dalam cerita pewayangan itu. Cerita tersebu diawali dengan adegan di pertapan Indrokilo, dimana Begawan Ciptoning itu diikuti oleh Punokawan yang terkenal dengan sebutan : Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.
Dalam keadan bersemadhi, Begawan Ciptoning itu diganggu oleh 3 bidadari yang menyebabkan alam “Jongring Seloko” menjadi goyah, karena ketiga bidadari itu adalah utusan dari Sang Hyang Jagad Giriloko yang memerintahkannya agar Begawan Ciptoning itu diganggu. Gangguan itu ternyata dapat diatasi Begawan Ciptoning hingga akhirnya gangguan itu berubah menjadi seekor celeng. Celeng itu menjelaskan pada Begawan Ciptoning bahwa ia diutus oleh Patih Imamtoko untuk mengobrak abrik pertapan Indrokilo, dimana Begawan Ciptoning sedang bersemadhi dalam alam sunyi.
Karena perlawanan celeng itu demikian hebatnya, maka untuk lebih memberikan semangat ning pada majikannya, para Punokawan dating menengahi dan mengemukakan pendapatnya pada Begawan Ciptoning, bahwa bentuk celeng itu nyolowadi (aneh, mencurigakan). Mereka berpendapat bahwa celeng itu bermaksud membubarkan Begawan Ciptoning dari pertapannya. Sebab kalau maksudnya tercapai, maka keadaan itu menjadi berbahaya kelak. Ternyata usaha celeng itu gagal., berkat keteguhan dan kemantapan iman Begawan Ciptoning dalam semadhi itu. Ketetapan dan keteguhan hati menyebabkan celeng itu sampai dipanah Begawan Ciptoning sehingga menghilang, bersamaan dengan itu datanglah Bambang Kilotorupo dari pertapaan atas angin. Dia mengaku bahwa yang berhasil membunuh celeng itu adalah dia. Adegan ini menunjukkan Bambang kilotorupo berhadapan dengan Begawan Ciptoning. Dimana satu sama lain tidak mau mengalah soal siapakah sebenarnya yang memanah celeng itu hingga hilang. Untuk memecahkan siapakah yang membunuh celeng tadi, maka mereka sepa
kat untuk mengadu kesaktian. Siapa yang menang, dialah yang telah membunuh celeng itu. Sehingga terjadi suatu pertempuran yang seru diantara Bambang Kilotorupo dengan Begawan Ciptoning yang digambarkan dengan bertandingnya dua buah cahaya, yaitu cahaya warna merah dan cahaya warna putih. Cahaya warna merah menggambarkan angkara murka, sedangkan cahaya warna putih melambangkan kesucian atau kebenaran. Akhirnya dalam perang tanding itu, Bambang Kilotorupo berubah menjadi Batohoro Guru (wadah dari pada cahaya putih dan merah) dimana Begawan Ciptoning sangat menghormatinya.
Dalam pertemuan antara Begawan Ciptoning dengan Bathoro Guru, yang tersebut belakangan mengaku bahwa 3 bidadari yang dihadapi Begawan Ciptoning itu adalah utusannya, demikian pula gangguan-gangguan yang lainnya. Kesemuanya itu adalah untuk menguji Begawan Ciptoning dalam hak akhlak, keberanian serta kerelaan dirinya dalam mencapai maksud utama di pertapan Inrokilo, yaitu kalu ia menghadapi perang Barathayudha (Brontoyudho). Begawan Ciptoning atau Raden Harjuno atau Raden Janoko diberikan senjata Pasopati oleh Bathoro Guru karena dapat menyingkirkan gangguan-gangguan tersebut.
Dengan senjata itu dan didampingi oleh puteri Kayangan Bathari Suprobo, Begawan Ciptoning akan menghadapi perang lawan Buto Nirwoto Kawoco yang sakti mandraguna dan tidak terkalahkan oleh siapa pun, jika lawannya tidak mengetahui kelemahannya. Selain itu yang dapat menunjukkan jalan dimana letak senjata ampuh Buto Nirwoto Kawoco itu adalah Bathari Suprobo. Demikian wejangan Bathoro Guru pada Begawan Ciptoning kalau ia nanti menghadapi Buto Nirwoto Kawoco. Maka berangkatlah Begawan Ciptoning untuk berhadapan dengan Buto Nirwoto Kawoco.
Dalam perang tanding antara Begawan Ciptoning dan Buto Nirwoto Kawoco itu, Begawan Ciptoning kalah. Kemudian ia ingat akan pesan dan petunjuk Bathoro Guru, bahwa senjata ampuh untuk menghadapi Buto Nirwoto Kawoco adalah Bathari Suprobo, yang bersembunyi di gelung (rambut) Begawan Ciptoning. Betari Suprobo segera keluar dari tempat sembunyinya dan menjumpai Nirwoto Kawoco, sedangkan Begawan Ciptoning bersembunyi dikancing baju Betari Suprobo.
Dalam menghadapi Nirwoto Kawoco, Betari Suprobo telah merubah siasat perang, yaitu perang dengan jalan merayu Nirwoto Kawoco, hingga terpikat. Betari Suprobo bersedia pula menjadi isteri Nirwoto kawoco, dan berkat siasat itulah maka Nirwoto Kawoco lalu menceritakan senjata ampuh yang dimiliki untuk menjadi orang sakti dan tidak terkalahkan dalam perang Brotoyudo. Antaranya senjata rahasia yang ampuh itu ialah bahwa ia tidak boleh makan ikan lele, karena di cetaknya (lak-lakan bhs Jawa) ada Jineng. Demikian ceritera Nirwoto Kawoco pada Betari Suproboketika dirayu. Nirwoto Kawoco menambahkan, kalau ia membuka mulutnya, maka Jineng itu akan bersinar.
Sambil dirayu Betari Suprobo, Nirwoto Kawoco lalu membuka dan menunjukkan Jineng pada Betari Suprobo. Tetapi saat itu, Begawan Ciptoning yang bersembunyi ditempat kancing baju Betari Suprobo lalu keluar dari tempat sembunyinya dan siap mengarahkan panah Pasopati ditempat Jineng. Pasopati terlepas dari busur dan tewaslah Nirwoto Kawoco, kemudian Begawan Ciptoning dan Betari Suprobo menghadap pada Batoro Guru untuk melaporkan tentang hasil yang diperolehnya sampai Buto Nirwoto Kawoco tewas diujung senjata pasopati. Tewasnya Nirwoto Kawoco berarti bahwa perang Brotoyudo kelak, Begawan Ciptoning atau Raden Janoko atau keluarga Pandowo pasti unggul. Demikian cerita pewayangan ini.
Dalam keadan bersemadhi, Begawan Ciptoning itu diganggu oleh 3 bidadari yang menyebabkan alam “Jongring Seloko” menjadi goyah, karena ketiga bidadari itu adalah utusan dari Sang Hyang Jagad Giriloko yang memerintahkannya agar Begawan Ciptoning itu diganggu. Gangguan itu ternyata dapat diatasi Begawan Ciptoning hingga akhirnya gangguan itu berubah menjadi seekor celeng. Celeng itu menjelaskan pada Begawan Ciptoning bahwa ia diutus oleh Patih Imamtoko untuk mengobrak abrik pertapan Indrokilo, dimana Begawan Ciptoning sedang bersemadhi dalam alam sunyi.
Karena perlawanan celeng itu demikian hebatnya, maka untuk lebih memberikan semangat ning pada majikannya, para Punokawan dating menengahi dan mengemukakan pendapatnya pada Begawan Ciptoning, bahwa bentuk celeng itu nyolowadi (aneh, mencurigakan). Mereka berpendapat bahwa celeng itu bermaksud membubarkan Begawan Ciptoning dari pertapannya. Sebab kalau maksudnya tercapai, maka keadaan itu menjadi berbahaya kelak. Ternyata usaha celeng itu gagal., berkat keteguhan dan kemantapan iman Begawan Ciptoning dalam semadhi itu. Ketetapan dan keteguhan hati menyebabkan celeng itu sampai dipanah Begawan Ciptoning sehingga menghilang, bersamaan dengan itu datanglah Bambang Kilotorupo dari pertapaan atas angin. Dia mengaku bahwa yang berhasil membunuh celeng itu adalah dia. Adegan ini menunjukkan Bambang kilotorupo berhadapan dengan Begawan Ciptoning. Dimana satu sama lain tidak mau mengalah soal siapakah sebenarnya yang memanah celeng itu hingga hilang. Untuk memecahkan siapakah yang membunuh celeng tadi, maka mereka sepa
kat untuk mengadu kesaktian. Siapa yang menang, dialah yang telah membunuh celeng itu. Sehingga terjadi suatu pertempuran yang seru diantara Bambang Kilotorupo dengan Begawan Ciptoning yang digambarkan dengan bertandingnya dua buah cahaya, yaitu cahaya warna merah dan cahaya warna putih. Cahaya warna merah menggambarkan angkara murka, sedangkan cahaya warna putih melambangkan kesucian atau kebenaran. Akhirnya dalam perang tanding itu, Bambang Kilotorupo berubah menjadi Batohoro Guru (wadah dari pada cahaya putih dan merah) dimana Begawan Ciptoning sangat menghormatinya.
Dalam pertemuan antara Begawan Ciptoning dengan Bathoro Guru, yang tersebut belakangan mengaku bahwa 3 bidadari yang dihadapi Begawan Ciptoning itu adalah utusannya, demikian pula gangguan-gangguan yang lainnya. Kesemuanya itu adalah untuk menguji Begawan Ciptoning dalam hak akhlak, keberanian serta kerelaan dirinya dalam mencapai maksud utama di pertapan Inrokilo, yaitu kalu ia menghadapi perang Barathayudha (Brontoyudho). Begawan Ciptoning atau Raden Harjuno atau Raden Janoko diberikan senjata Pasopati oleh Bathoro Guru karena dapat menyingkirkan gangguan-gangguan tersebut.
Dengan senjata itu dan didampingi oleh puteri Kayangan Bathari Suprobo, Begawan Ciptoning akan menghadapi perang lawan Buto Nirwoto Kawoco yang sakti mandraguna dan tidak terkalahkan oleh siapa pun, jika lawannya tidak mengetahui kelemahannya. Selain itu yang dapat menunjukkan jalan dimana letak senjata ampuh Buto Nirwoto Kawoco itu adalah Bathari Suprobo. Demikian wejangan Bathoro Guru pada Begawan Ciptoning kalau ia nanti menghadapi Buto Nirwoto Kawoco. Maka berangkatlah Begawan Ciptoning untuk berhadapan dengan Buto Nirwoto Kawoco.
Dalam perang tanding antara Begawan Ciptoning dan Buto Nirwoto Kawoco itu, Begawan Ciptoning kalah. Kemudian ia ingat akan pesan dan petunjuk Bathoro Guru, bahwa senjata ampuh untuk menghadapi Buto Nirwoto Kawoco adalah Bathari Suprobo, yang bersembunyi di gelung (rambut) Begawan Ciptoning. Betari Suprobo segera keluar dari tempat sembunyinya dan menjumpai Nirwoto Kawoco, sedangkan Begawan Ciptoning bersembunyi dikancing baju Betari Suprobo.
Dalam menghadapi Nirwoto Kawoco, Betari Suprobo telah merubah siasat perang, yaitu perang dengan jalan merayu Nirwoto Kawoco, hingga terpikat. Betari Suprobo bersedia pula menjadi isteri Nirwoto kawoco, dan berkat siasat itulah maka Nirwoto Kawoco lalu menceritakan senjata ampuh yang dimiliki untuk menjadi orang sakti dan tidak terkalahkan dalam perang Brotoyudo. Antaranya senjata rahasia yang ampuh itu ialah bahwa ia tidak boleh makan ikan lele, karena di cetaknya (lak-lakan bhs Jawa) ada Jineng. Demikian ceritera Nirwoto Kawoco pada Betari Suproboketika dirayu. Nirwoto Kawoco menambahkan, kalau ia membuka mulutnya, maka Jineng itu akan bersinar.
Sambil dirayu Betari Suprobo, Nirwoto Kawoco lalu membuka dan menunjukkan Jineng pada Betari Suprobo. Tetapi saat itu, Begawan Ciptoning yang bersembunyi ditempat kancing baju Betari Suprobo lalu keluar dari tempat sembunyinya dan siap mengarahkan panah Pasopati ditempat Jineng. Pasopati terlepas dari busur dan tewaslah Nirwoto Kawoco, kemudian Begawan Ciptoning dan Betari Suprobo menghadap pada Batoro Guru untuk melaporkan tentang hasil yang diperolehnya sampai Buto Nirwoto Kawoco tewas diujung senjata pasopati. Tewasnya Nirwoto Kawoco berarti bahwa perang Brotoyudo kelak, Begawan Ciptoning atau Raden Janoko atau keluarga Pandowo pasti unggul. Demikian cerita pewayangan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar