Selamat Tahun Baru Imlek 2561.
Postingan ini merupakan sejarah asal usul dan cara bagaimana orang-orang Hokkian merayakan tahun baru Imlek, yang saya ambil dari Buku Peringatan HUT Rasa Dharma ke-100. Di Semarang Tahun 1976.
Kalau dalam Kitab GENESIS dari OLD TESTAMENT (BIBLE) ada tersurat adanya Zondvloed (Air-Bah, Banjir Bandang, Banjir Kiamat) dikarenakan murka Tuhan Allah atas terjadinya segala kelaliman di dunia yang penuh dosa, sehingga menyebabkan Tuhan menghukumnya. Waktu itu yang diselamatkan hanya Nabi Nuh sekeluarga yang dengan "ARKE NOACH-nya" dapat menghindarkan diri hukum air bah yang begitu dahsyat dan dalam penyelamatan tersebut diperbolehkan membawa berbagai jenis binatang masing-masing sejodoh, maka menurut cerita purbakala (Overlevering) Yunani ada disebut pula adanya hukum air bah kedua dalam mana pula dapat diselamatkan hanya raja dari Tessalia bernama DEUCALLION bersama permaisurinya bernama PYRRHA dan kesemuanya lagi-lagi akibat perbuatan dosa rakyatnya waktu itu. Dan demikian dalam hikayat Yunani, menurut menurut cerita purbakala itu, raja DEUCALLION disebut dan dijuluki sebagai Nabi Nuh-nya Yunani.
Cerita purbakala lebih lanjut yang penulis sebegitu jauh ketahui, menyebut adanya cerita Air bah yang ketiga ialah yang mengancam akan dijatuhkannya sebagai hukum dari Tuhan Allah atas rakyat Tiongkok, khususnya di Propinsi Hokkian, yang dosa-dosanya kian meningkat. Waktu itu moral manusia disana demikian bobroknyadan masih terus berbuat dosa tanpa ada tanda-tanda akan menjadi baik kembali moral mereka. Menurut ceritanya, zaman itu disalah satu kota di Propinsi Hokkian ada bermukim seorang pandai yang telah mendapat wahyu dari Yang Maha Kuasa. Bahwa dalam waktu tak lama lagi seluruh Propinsi Hokkian, karena murka Allah akan disapu bersih dari muka bumi dengan air bah. Tapi Allah Yang Maha Pengasih mengingatkan diantara rakyat yang masih ada juga beberapa gelintir manusia yang mau bertobat, maka Allah masih mau memberi peringatan terakhir untuk mereka dapat bertobat dan sebagai tanda-tanda ajaib dijelaskan sebagai berikut :
Kapan akan dijatuhkannya hukum dahsyat tersebut tidak diberitahukan, tegasnya pelaksanaan hukum Air bah sewaktu-waktu dapat terjadi, tapi ada satu tanda yang diberikan oleh Allah, ialah bila sewaktu-waktu patung batu binatang warak yang terdapat dikelenteng ditempat tersebut meneteskan darah dari lobang hidungnya, itu adalah pertanda bahwa kalau seminggu kemudian hukum akan dilaksanakan secara mutlak.
Dengan mendapat wahyu ini, si orang pandai tadi lalu mendatangi seorang wangwee (hartawan) yang didaerah itu selain terkenal sebagai seorang yang mempunyai jiwa sosial juga berwibawa besar terhadap masyarakat sekelilingnya, jadi beliau ini dapat dikatakan terhitung salah satu diantara orang yang masih dapat dianggap belum bejat moralnya.
Postingan ini merupakan sejarah asal usul dan cara bagaimana orang-orang Hokkian merayakan tahun baru Imlek, yang saya ambil dari Buku Peringatan HUT Rasa Dharma ke-100. Di Semarang Tahun 1976.
Kalau dalam Kitab GENESIS dari OLD TESTAMENT (BIBLE) ada tersurat adanya Zondvloed (Air-Bah, Banjir Bandang, Banjir Kiamat) dikarenakan murka Tuhan Allah atas terjadinya segala kelaliman di dunia yang penuh dosa, sehingga menyebabkan Tuhan menghukumnya. Waktu itu yang diselamatkan hanya Nabi Nuh sekeluarga yang dengan "ARKE NOACH-nya" dapat menghindarkan diri hukum air bah yang begitu dahsyat dan dalam penyelamatan tersebut diperbolehkan membawa berbagai jenis binatang masing-masing sejodoh, maka menurut cerita purbakala (Overlevering) Yunani ada disebut pula adanya hukum air bah kedua dalam mana pula dapat diselamatkan hanya raja dari Tessalia bernama DEUCALLION bersama permaisurinya bernama PYRRHA dan kesemuanya lagi-lagi akibat perbuatan dosa rakyatnya waktu itu. Dan demikian dalam hikayat Yunani, menurut menurut cerita purbakala itu, raja DEUCALLION disebut dan dijuluki sebagai Nabi Nuh-nya Yunani.
Cerita purbakala lebih lanjut yang penulis sebegitu jauh ketahui, menyebut adanya cerita Air bah yang ketiga ialah yang mengancam akan dijatuhkannya sebagai hukum dari Tuhan Allah atas rakyat Tiongkok, khususnya di Propinsi Hokkian, yang dosa-dosanya kian meningkat. Waktu itu moral manusia disana demikian bobroknyadan masih terus berbuat dosa tanpa ada tanda-tanda akan menjadi baik kembali moral mereka. Menurut ceritanya, zaman itu disalah satu kota di Propinsi Hokkian ada bermukim seorang pandai yang telah mendapat wahyu dari Yang Maha Kuasa. Bahwa dalam waktu tak lama lagi seluruh Propinsi Hokkian, karena murka Allah akan disapu bersih dari muka bumi dengan air bah. Tapi Allah Yang Maha Pengasih mengingatkan diantara rakyat yang masih ada juga beberapa gelintir manusia yang mau bertobat, maka Allah masih mau memberi peringatan terakhir untuk mereka dapat bertobat dan sebagai tanda-tanda ajaib dijelaskan sebagai berikut :
Kapan akan dijatuhkannya hukum dahsyat tersebut tidak diberitahukan, tegasnya pelaksanaan hukum Air bah sewaktu-waktu dapat terjadi, tapi ada satu tanda yang diberikan oleh Allah, ialah bila sewaktu-waktu patung batu binatang warak yang terdapat dikelenteng ditempat tersebut meneteskan darah dari lobang hidungnya, itu adalah pertanda bahwa kalau seminggu kemudian hukum akan dilaksanakan secara mutlak.
Dengan mendapat wahyu ini, si orang pandai tadi lalu mendatangi seorang wangwee (hartawan) yang didaerah itu selain terkenal sebagai seorang yang mempunyai jiwa sosial juga berwibawa besar terhadap masyarakat sekelilingnya, jadi beliau ini dapat dikatakan terhitung salah satu diantara orang yang masih dapat dianggap belum bejat moralnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar