Jumat, 16 Juli 2010

Sekolah dan Lingkungan Eksternalnya


Sekolah merupakan tempat siswa dapat belajar. Pada definisi tersebut terdapat frase dapat belajar karena tidak tiap siswa yang berada di sekolah dapat belajar. Dalam arti belajar dengan atau tanpa bimbingan guru. Sekolah yang efektif adalah yang memiliki kepala sekolah dan guru yang dapat memfasilitasi siswa belajar.

Sekolah yang mampu menciptakan suasana belajar dan mengelola proses belajar sehingga mencapai target yang diharapkan. Sekolah efektif adalah sekolah yang mampu merencanakan indikator mutu dengan target yang realistis, sekolah yang mampu mengontrol atau lebih tinggi lagi menjamin bahwa apa yang direncanakannya dapat diwujudkan secara nyata.

Sekolah efektif adalah sekolah yang mampu meningkatkan penguasaan ilmu dan keterampilan guru agar dapat membantu siswa belajar bagaimana seharusnya belajar. Meningkatkan kemampuan guru mengembangkan kemandirian siswa belajar, melakukan eksplorasi-elaborasi-dan konfirmasi dalam penguasaan informasi, menerapkan pengetahuan dalam berbagai produk belajar yang nyata dapat ditunjukkan dalam bentuk lisan, gerak, maupun tulisan.

Sekolah yang efektif mampu membangkitkan semangat guru dan siswa untuk berkolaborasi pada lingkungan internal maupun global dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia. Salah satu tanda sekolah efektif adalah merayakan pencapaian mutu dengan memberikan penghargaan kepada siswa atau pihak sekolah yang bersangkutan. Kecerdasan sekolah dikembangkan dengan dilandasi kemampuan berpikir pada sistem terbuka. Kota kita adalah ruang belajar siswa, atap kota kita adalah langit cyber.

Dalam sistem kelembagaan modern dikenal istilah organisasi virtual. Tak perlu punya apa-apa, namun yang paling penting dapat menggunakan apa-apa. Contoh organisasi virtual yang popular adalah semacam biro perjalanan. Lembaga itu tidak punya bus, kereta api, kapal pesiar, hotel, restoran, juga pesawat terbang. Biro perjalanan itu hanya memiliki kompetensi untuk membangun jaringan yang dapat mengintegrasikan seluruh potensi yang dimiliki orang lain untuk kepuasan pelanggannya dan sebuah ruang kecil sewaan yang diintegrasikan pada jaringan internet.

Dalam sistem sekolah kita sangat paham dengan ruang belajar atau kelas. Dalam konsep modern, kelas disebut small classrooom, dindingnya dapat dinaikan dengan jaringan internet sehingga menjadi world classroom. Di tengahnya ada istilah giant classroom atau kelas besar kalau bukan kelas raksasa. Istilah yang terakhir khawatir diasosiasikan sebagai tempat para raksasa belajar.
Giant classroom adalah sistem di mana sekolah mengintegrasikan seluruh komponen sistem pendukung yang ada di lingkungan sekolah, bisa dalam satu kota menjadi bagian dari sistem kelas yang terbuka. Guru tidak membatasi pikirannya dengan asumsi bahwa kelas hanya sebatas dinding. Dalam kegiatan belajar siswa dapat diintegrasikan pada lingkungan secara dinamis, moving, dengan memanfaatkan seluruh potensi yang ada melalui peningkatan mutu pelayanan belajar dengan sistem terbuka. “Tak perlu punya, yang penting dapat menggunakannya”. Konsep ini telah banyak digunakan oleh guru olah raga, meminjam lapangan sepak bola ke pihak ketiga, menggunakan jalan raya untuk berlari atau menggunakan bukit untuk senam. Namun demikian model pengembangan sistem pembelajaran biasanya tidak berbeda dengan guru lain yang menggunakan pendekatan sistem tertutup, dimana sekolah berarti masuk pada lingkungan kecil dengan luas yang terbatas.

Sekolah yang efektif pada saat ini menunjukkan indikator kinerja yang dapat memberdayakan lingkungan internal dan eksternalnya secara optimal. Konsep ini digariskan secara tegas pada sistem manajemen strategik. Analisis yang mendukung adalah model analisis SWOT yang menempatkan sekolah dalam peta keterkaitannya pada lingkungan dalam dan luar sekolah.
Sebagai konsekuensi dari indikator di atas, maka sekolah perlu menetapkan indikator keberhasilan proses pembelajaran yang memanfaatkan seluruh sumber daya internal maupun eksternal untuk meningkatkan potensi diri siswa. Asumsi yang mendasarinya adalah siswa dapat mencapai prestasi tertentu seperti yang ditargetkan sekolah jika siswa dapat memanfaatkan seluruh peluang belajar, baik yang ada di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Target yang ditetapkan harus terukur. Artinya dapat dijangkau, dapat direalisasikan, dapat dinilai, dan nyata hasilnya.

Berdasarkan pengamatan dalam melakukan pembinaan terhadap sekolah, dapat disimpulkan bahwa ada dua masalah utama yang menghambat sekolah dalam meningkatkan kinerjanya untuk memanfaatkan sumber daya internal dan eksternal secara optimal untuk meningkatkan kinerja belajar siswa.
Pertama, dalam sistem perencanaan sekolah, orientasi program lebih fokus pada sumber daya internal. Bahkan pada beberapa sekolah ternyata memperlihatkan program peningkatan mutu sarana yang lebih fokus pada pengadaan, pembangunan, dan pemanfaatan yang ada di sekolah. Hal ini sangat erat kaitannya dengan bagaimana sekolah mempersepsikan sumber daya yang melekat pada kebiasaan berpikir bahwa kita lebih mudah dan lebih tenang jika kita menggunakan milik sendiri. Model berpikir dengan sistem terbuka masih sulit untuk dikembangkan.

Kedua, pada beberapa sekolah sekolah papan tengah ke bawah selalu mempersepsikan bahwa siswanya kurang berpotensi. Akibat dari persepsi pendidik bahwa kecerdasan siswanya lebih rendah daripada siswa di sekolah favorit. Asumsi seperti ini menyebabkan guru maupun pengelola sekolah menetapkan target mutu yang rendah.

Pada kasus di beberapa sekolah menunjukkan bahwa keberanian untuk menetapkan target pembinaan siswa menjadi juara dalam ujian nasional maupun lomba cenderung lebih rendah karena setting pikirannya selalu dilandasi dengan persepsi siswanya berkompetensi rendah. Sebaliknya pada sekolah-sekolah papan atas selalu memandang siswanya memiliki kemampuan lebih. Dampak persepsi ini tampak dalam penentuan strategi pembinaan siswa yang menjadi sangat berbeda. Di sekolah seperti ini siswa mendapat kepercayaan dan dukungan keyakinan bahwa mereka dapat menjadi yang terbaik sementara di sekolah papan bawah mereka mendapatkan pemakluman sejak awal kalau mereka hanya akan jadi pecundang.

Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya persepsi positif bagi seluruh warga sekolah dalam memandang seluruh sumber daya yang melekat pada SDM serta saran dan prasarana sekolah. Keterbatasan dalam kepemilikan bukanlah suatu penghalang karena dapat diatasi dengan pengorganisasian secara virtual. Optimisme sangat diperlukan dalam mengembangkan keyakinan bahwa mereka bisa meraih prestasi dengan belajar dan berjuang keras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar